Please save me from my friends, Now!



Assalamualaikum.
Kali ini ragu-ragu meluk otak gue buat ngepost. Kejebak perasaan emosi tapi diusahain cool. Tapi udah log in gini, ga tega out lagi.  
So correct me if I'm wrong.

Just to let you know..
Minggu ini berjalan dengan lambat. Sesuatu terus berputar di otak gue. Kejadian sore hari, saat titik-titik air membasahi jalanan terus terproyeksikan pada otak gue. Biasanya otak gue akan mengantarkan impuls, "ah masa bodoh ah"
Namun, mungkin karena otak gue jarang kepake. Jadilah gue memutuskan untuk terus memikirkan petaka itu

Petaka itu dimulai ketika sekumpulan para cewek sedang asik bergulat dengan topik ga jelas. Sesaat setelah gue menjawab pertanyaan pribadi dari temen. Akhirnya seorang anak lain tiba-tiba ga ada hujan, ga ada badai, jemuran belum diangkat eh ngeluarin quote bijak,  
"hal lucu adalah di situasi ketika kau sudah mengetahui kebenaran dari segala kebohongan"

Lalu berlanjut dengan quote anak lain yang bilang,  
"sepandai-pandainya kamu bohong, pasti bakalan ketahuan juga"

pokoknya setelah gue ngomong atau setelah jawab pertanyaan temen. Ada beberapa oknum temen yang kayaknya emang udah siapin banget quotenya itu udah mateng banget, kayak udah disiapin pas 3 hari sebelumnya gitu.
In other words, secara ga langsung, seolah-olah quotenya ngomong, "ga usah bohong taa!"
Gue seolah-olah jadi pihak yang paling disudutin abis.

Oh man. At the momment, beribu belati kebencian menghujani dada gue.
Entah dari mana juga, gue dapet impuls kalau emang gue yang lagi disinggung.
Namun satu hal yang gue tau dari sang penyinggung ini, "as far as I know, Singgungan lo selalu terasa lembut dan sukses mencapai tujuan lo: pen nyakitin gue, sampe gue sadar. Lebih tepatnya lo dengan kasar, narik gue yang lagi tersesat untuk keluar dari labirin kebohongan" (eak bahasanya ugal-ugalan, saking esmosinya)

Seharusnya niat lo baik (as I see it) pen buat gue sadar kan ya?
Sayangnya, lo mengemas dan menyampaikannya dengan begitu buruk. Bahkan sangat-sangat buruk untuk ukuran sahabat yang paling gue sayang (setidaknya itu menurut gue, entahlah kalau lo anggap gue lebih rendah dari binatang sosial).

Satu hal yang gue dapatkan setelah itu, 
"quote kamu cantik, kayak orangnya:) hanya saja, ada situasi yang lebih lucu dari situasi itu. Situasi dimana kamu udah ngerasa sudut pandang kamu yang paling benar tanpa melihat sudut pandang orang lain. Bukan kah tiap sudut pandang hanya opini?"
Mari sumbangkan tawa terdahsyat kita

Gue nyaranin, kayaknya lo butuh kepastian atas segala kebohongan itu, namun entahlah. Mungkin jiwa lo nyamannya nyinggung, tanpa bertanya: kenapa gue bohong? Atau lebih tepatnya kenapa sudut pandang gue tercium pengap oleh bau kebohongan?

Gue sempat ketawa dikit. Maksud gue ketawa geli, geli banget. Berandai-andai, kalau aja gue pribadi yang buta akan nilai positif dari kehidupan terus lo nyinggung gue dengan cara itu. Gue nyari tujuan lo nyinggung gue apaan. Mungkin yang gue tangkap hanyalah sisi negatifnya, yaitu: lo mencoba menjatuhkan gue di depen temen-temen secara lembut dan tenang. Itu sangat buruk, sahabat:)

For your Amusement :  
Wow! Kalian melakukan hal itu (menyinggung) dengan bermain tenang, bermain rapi, tersusun dan sangat apik. Kalian ga keberatan kalau gue  narik kesimpulan, gue bukan satu-satunya korban singgungan lembut yang menusuk kalian 'kan? Karena berdasarkan pengamatan gue, lo bertingkah selayaknya sang penyinggung yang udah profesional.
Ohiya. Gue baru ingat. Saat kumpul kemarin (kalau ga salah), kalian juga sempat beberapa kali menyinggung seseorang bahkan menceritainya dari belakang. Damn! Ga hanya kemarin, minggu lalu juga. Bulan kemarin anak itu yang kena giliran dijudge.  
Oh god! Kalau gue ga ikut ngumpul sama mereka sehari doang, mungkin gue yang jadi bahan bicaranya mereka?
*just wondering*

Sori tapi ini tamparan balik buat kamu (sumpah, ga ada niat ngebenarin diri ataupun ngejatuhin diri siapapun di sini. Biar jadi bahan aja buat bentuk mental yang lebih matang) :
mungkin justru sudut pandang gue yang lebih mulia dari sudut pandang lo.

Membiarkan sudut pandang yang seharusnya salah, merasakan kemenangan dari segala konsep kehidupan adalah bukan hal yang gampang. Tapi setidaknya gue udah nyoba. Jatuh-bangunpun ngadepin kalian yang makin hari, makin nyolot nyinggungnya emang udah masuk dalem daftar kegiatan gue sehari-hari.

Jadi sori tapi menjauh jalan satu-satunya, mungkin. Karena walaupun mendekat, sudut pandang lo hanya melihat pada sisi negatif gue. Sisi negatif yang cuma argumen yang diimprovisasikan. Buat apa bertahan menyiksa diri sendiri dengan sengaja bersama kalian lagi, mendengarkan segala singgungan yang sengaja diselipkan pada tiap lelucoan yang coba dilembutkan? Sengaja membuat singgungan halus bahkan sehalus awan yang menggantung di langit, sampe-sampe gue ga sadar. Ternyata ada awan di atas sana (saking lembutnya) Terkesan menjadi statement tak berarti, tapi tenang. Sudut pandang gue mencoba menilik sisi lain (sisi postifnya).

Man. Jadilah sudut pandang gue dan ketahuilah bagaimana menyakitkannya ketika seorang teman yang udah nyaris lo panggil sahabat ternyata diam-diam mencoba menjatuhkan lo.

"Gue ga coba jatuhin elo, ini namanya nyadarin elo secara ga langsung"
"Have a good one, dengan gini lo bisa introspeksi diri"

Laughing out loud*
Lo sebut ini cara untuk gue introspeksi diri? Gue sebenarnya prihatin. Lo pribadi yang cukup ngg.. Mungkin terlalu ribet. Masalah kecil dibesar-besarin. Dipendem. Beranak-pinak sampe lima generasi.
"Ya udah, kalau elo mau gue introspeksi diri. Ngomong aja langsung. Jangan diribetin pake quote-quote yang kikuk dan sama sekali ga mutu"
In my opinion, gue ibaratin kayak lagi traveler. Lo dari Makassar, pen ke Jakarta. Tapi elo keliling dunia dulu. Ke Bangkok terus ke Pakistan terus ke Maroko terus ke Alaska terus ke Los Angeles terus ke Uruguai terus ke Kenya terus ke Sydney terus ke Papua Nugini baru deh mendarat di Jakarta. 
Tujuannya satu, cuma diribetin pake quote biar kesannya cool!
Rispek:(

Beda jauh dari sudut pandang gue. Kalau sudut pandang lo sadar-gasadar kesannya ngejatuhin orang banget:)
Sadar ga sih kalau sudut pandang kamu terus dibudidayakan, orang yang buta nilai postif dari kehidupan akan mengambil sisi negatifnya. Dan akan gue pastiin lo berakhir pada "seseorang akan memendam sesuatu, entah itu sakit hati atau hal yang ga lo inginkan dalam hatinya', lebih parahnya gue takut elo kena karma:') diceritain dan disinggung juga sama anak yang lain.

Gue cukup yakin, lo ga mau rasain ketika kulit lo ga sengaja teriris pisau yang digenggam temen sendiri. Lalu teman yang lainnya naburin garam di atas bekas irisan itu.
Know what I mean?

Hal yang paling gue bangga-banggain dari kejadian ini. Gue praktis bakalan kaya. Kaya sendirian. Kaya sendirian dalam diam. Karena katanya, Diam Itu Emas. Sayangnya gue ga kunjung dapetin itu, emasnya habis digerogoti oleh makian dan berbagai macam sumpah serapah yang ga terfilter baik. Please, don't tell my mom about it!

Kita sebenernya sama. Lo sama gue, sama. Sama-sama Munafik. Bedanya, lo seolah-olah maki orang lain depen gue tapi makian itu tujuannya buat gue. Yah sama. Gue juga maki elo. Maki dalem hati. Saking banyaknya yang keluar cuma senyuman getir:)

Gue udah beribu kali nyoba nerima bahwa lingkungan gue emang ga akan pernah adil. Baik lingkungan rumah, lingkungan sekolah bahkan lingkungan masyarakat. Dan itu ga gampang. Ketika lo jadi gue, dan tau kalau mereka semua sama: memandang lo dengan make kaca mata berlensakan keburukan lo. Gue sangat yakin, langkah awal yang lo lakuin adalah Mengutuk Dunia.
I'm disrupted
Gue ga minta kalian bersihin kaca matanya. Ga! sebelum kalian bersihin mata (hati) kalian dulu

Namun ini suatu kehormatan bagi gue, bisa dijudge di belakang, tanpa ada konfirmasi sebelumnya.

Biasanya gue kalau punya salah, gue punya temen yang emang kebal banget. Dia dengan beraninya ngasi tau gue.
"taa kamu tadi salah, harusnya egois kamu sekali-kali didropin dikit. Yang lain jadi ga enak jalaninnya ntar. Jangan mentang-mentang kamu ketua kelas taa" 
 -Andhini temen smp gue, tepatnya wakil ketua kelas gue. 

Gue bareng dia selama setahun full dijudge Duo anj*ing. Saat naik kelas 2 smp, tepat saat gue bareng dia ninggalin amanah jadi ketua dan wakil ketua kelas kita juga resmi lepas dari julukan Duo Anj*ing.

Kita dikatain seperti itu karena ada beberapa peraturan kelas yang kami berdua sepakati tapi mereka ga sepakati. Gue bareng Andhini jadi sering terlibat cekcok, seperti biasa. Kita sama-sama pribadi yang suka frontal, ga mendem. Jadi kadang ada salah dikit, gue biasanya smsin dia. Dia mungkin ga mau kalah, jadi dia juga ga jarang negur gue. Sehari kemudian selalu berakhir, "sori gue kemarin emosi".

Kalau mau jujur. Gue mending punya temen kayak dia. Frontal. Biasa mulutnya nyakitin, bahkan minta di traktirin sepatu.
"Astaga taa. Kita mau ke mall. style apa lo taa? Kita lagi ga mau ngemis ya taa. Jorok abis, gue bantuin robek celananya sinih!" 
Mulutnya nyerocos aja. Ga ada jeda buat gue timpukin. Yah. Setidaknya dia ga ngomongin gue di belakang. Gue juga harus hargain itu dong. Itu tandanya dia care sama gue, dia mau gue balik ke rumah ganti style biar ga malu-maluin.

Daripada gue harus dapet quote ribet, "bersih itu sebagian dari iman taa"
Itu kesan mengguruinya kental banget.

Maafin gue yang pemilih temen banget, ga syukuri pemberian Tuhan. Iya bener, masih mending gue dikasi banyak temen yang suka bikin quote. Bisa ngingetin gue. but name is also human, soal ngerasa nyaman ga nyaman kan biasa? *bela diri*

"coba transisi emosi pengen maki-maki dia jadi pengen ngubah dia jadi lebih baik dengan gaya bahasa yang ga menyerabut/ga ribet dan gampang dimengerti!"

Sayangnya Andhini-Andhini yang lain kadang sembunyi, sembunyi dan tenggelam sama Andhini super FAKE KW yang udah banyak diduplikasikan. Andhini super FAKE KW yang ketika liat sisi buruk temennya, ga langsung negur. Dipendem sambil terus bela diri, "niat gue baik kok, siapa tau dia pribadi yang ga suka ditegur? Ntar dia sakit hati lagi sama gue". Setelah bela diri, eh langsung cerita ke temen lain.
Temen lain karakternya sama yang cerita tadi, suka mendem. Temen lainnya ini cerita ke temennya temen lain. Temennya temen lain cerita ke temennya temen, temen lain. Udah deh. Punya temen di Indonesia emang enak banget, sambung menyambung menjadi satu: satu kesatuan teman b*ngke. Setelah itu, bukannya minta maaf eh tetep aja bela diri, "aku temen kamu yang setia sama kamu"
Clean my friendship, god!

Ah yah.
Yah, mari kita sepakat untuk mentoleransi dan berfikir positif.
Tipe manusia kan banyak klasifikasinya. so, mungkin mereka (sang oknum penyinggung profesional bemoduskan quote) kebagian tipe manusia yang masih kaku atau bahkan ga tau gimana caranya nyampein uneg-uneg dengan baik.
Mungkin mereka punya cara sendiri dan gaya sendiri nyampein
Mungkin mereka menganggap semua tipe manusia itu sama, sama-sama suka dibikinin nasehat dari quote (gue bukan tipe manusia yang suka dinasehati apalaginpake quote. Gue tipe manusia yang suka dibikinin martabak)
Mungkin mereka menganggap semua yang di sekelilingnya suka dibikinin quote (gue ga suka, ga bikin kenyang. Gue suka martabak, bikin kenyang)

Ah terlalu banyak kemungkinan, buat otak gue dihantui martabak.

Akhir kata
Gue mau minta maaf sama oknum-oknum ini, udah buat kalian merasa dibohongi. Kalian hanya ga tau dan mungkin kalian udah ga mau tau. Ah, kita selalu saja sama. Sama-sama ga mau tau. 
Come on, turn on mode 'wat eferr'


Gue juga mau terima kasih sama kamu yang udah buatin gue berbagai quote yang sumpah menggelitik usus gue. Gue jadi punya motivasi buat ketawa lebih lebar lagi. Love you lots dah:)

Gue cuma mau minta satu aja, yah: Gue emang bukan salah satu tipe teman yang baik cuma gue mau ngajak kalian untuk "Mari Menjadi Teman Yang Cukup Baik Untuk Dihina Bersama-sama!"

"Kalau sudut pandang kamu ngejudge kamu yang paling tahu segalanya dan kamu yang paling bener itu buat kamu seneng dan gembira. Yah udah, ikut seneng aja. Gue usahain emas kali ini bakalan gue jaga"
-sndljepitcappih-

Sky, Why Are You Sad?

Assalamualaikum

*masuk sambil bales sms temen*



“Ki. Keadaan gimana sekarang? Udah enakan? Kalau butuh temen lagi panggil gue aja, kebetulan gue kosong nih hehe”

Kurang lebih itu yang tampak pada layar hp gue yang habis gue ketik. Tentunya ditujukan oleh tetangga gue yang sekarang udah pindah jauh ke alam lain –maapin kakah Kira.



Kemarin anak curut ini, gue temenin ngegalau. Di saat gue lagi  ngelatih insting goku gue, matengin jurus super saiya dengan konsentrasi lebih tinggi, dia nelfon gue dengan nada ga nyante nyolotnya nyuru gue ke rumahnya. Karena dia bareng gue udah kayak sodaraan, gue okein



Ketahuilah saat itu hujan deras disertai kilat dan petir yang menghujam terus-menerus permukaan bumi di Makassar! *padahal cuma gerimis dan di pinggir jalan banyak yang ngepaparazi kena blitz kamera haha*



Gue sampe di rumahnya pake acara basah-basahan sambil salemin bokapnya –for your information, nyokapnya udah meninggal, ini yang buat gue care sama dia. Nyokap gue kenal dekat sama keluarganya. Jadi kalau ada masalah bareng dia, Cuma gue yang dipanggil buat nenengin dia. 

Setelah mandi dikit dan dibikinin susu anget sama bokapnya , gue deklarasiin kalau gue siap dengerin ceritanya sambil duduk di sofa depen jendela yang ngeviewin jalan raya live




Hujan yang berkolaborasi dengan alunan musik klasik dari radio kamarnya, buat suasana galo mengental. Sayangnya gue lagi ga mood buat galo. Cerita demi cerita dia lontarin dan yang gue tangkep Cuma, “Harusnya yang ada di depennya sekarang itu bukan gue, tapi gebetannya dia. Gebetannya dia emang selalu siap kapan aja dengerin dia curhat, entah soal pacarnya atau soal keluarganya. Tapi sekarang gebetannya udah banting stir”



Gue baru sadar sekarang, nih anak udah punya pacar eh masih ngeharap sama gebetan. Satu-satu kali kii! Jangan diborong, buat gue manahhh? *cakar-cakar mukanya Kira*




Dia galaunya ga main-main, habisin tissue 3 pack, itu tuh sakitnya di dompet gue. Yang galo siapa, yang beli tissue siapakkk?

Stress sendiri
 

Berkaca dari dia, entah kenapa jiwa puitis gue keluar.

Sampe rumah –yey akhirnya punya rumah juga, gue Cuma baringan bentar, coba meresapi perasaan dia. En den.. Gue bangun bawa sejumlah kertas dan pensil sama pasangannya, si pengapus –ciee couple. gue otw ke roof top. 



Di roof top masih kayak kemarin, langit masih dihiasi  awan kelabu cantik. Gue duduk, gue berpikir, coba mendengarkan kata hati sendiri dan coba tulis apa aja yang terlintas di otak gue.

Setelah beribu-ribu detik gue laluin sambil menghapus, merobek dan membuang kertas-kertas yang isinya kurang pas, ini lah hasilnya (dengan berbagai pemikiran hebat sampe-sampe menimbulkan konspirasi gue bareng nyamuk, gue jadi ubah sudut pandang puisinya jadi si Kira)

Enjoy!




                                                Sesederhana Hujan

Senang rasanya, dapat kembali ke secarik kertas ini

Kertas   yang geli kusebut diary   yang menjadi cawan kemudian kutuangi cerita

Cerita curahan hati alam bawah sadar



Ting. Ting. Ting

Putaran sendok searah jarum jam mengitari diameter cangkir susu hangatku

Sengaja kubuat untuk menyambut hujan di luar sana




Ah, hujan ..

Aku selalu berterima kasih pada hujan, mereka telah memberiku kesempatan

Kesempatan untuk melamun, tentunya..




Tetesan hujan dari luar yang nampak memaksa masuk namun terhalang kaca

Tetesannya bersatu menjadi sebuah aliran air yang menuruni jendela

Seolah tak lagi ada harapan untuk bisa masuk

Hingga akhirnya, gravitasi membuatnya rela luruh ke tanah

Sayangnya, Mereka  tetesan hujan- terlalu kilat putus asa

Sama halnya denganku, buruk.



Air hujan yang lainnya bahkan jatuh menghantam jalanan membentuk seperti jarum

Begitu terasa menusuk dan sakit walau sedikit

Membuatku terhenyak walaupun sejenak



Seperti biasa, aku melamun di sofa menatap jendela kusang

Menyaksikan air turun deras, membasahi jalan yang mulai sepi

Bagai melihat film yang berjudul namamu

Semua hanya wajahmu yang terproyeksikan

Lalu, terlintas di benakku peristiwa seminggu kemarin.. 



Saat itu aku datang menghampirimu dengan langkah kaki menggebu

Seolah deretan kata dalam tenggorokanku berdesak, ingin keluar

Hari itu tidak hujan, terbukti setelah aku menengadahkan tanganku di bawah langit biru

Kamu tiup kursi penuh debu, memastikan cukup bersih untuk aku bebani



Kamu seketika mengubah diri menjadi telinga

Semua gundah, kulontarkan dalam bentuk frasa.

Tentang seseorang di luar sana, yang mencoba menyakitiku

Kamu menatapku lekat-lekat, mencoba mengidentifikasi  petir dan guntur di mataku

Hingga akhirnya, hujan pun turun



Kamu menengadahkan tangan ke bawah langit, persis yang kulakukan tadi

Kamu memasang mimik yang membingungkanku

Lalu kamu menengadahkan tangan ke bawah pipiku

hujan air mata deras berjatuhan

Ejekan mu selalu begitu lembut



Lalu, kamu menyentuh pipi yang basah itu, seolah berkata :

“hanya untuk memastikan, aku cukup basah untuk kehujanan di sana bersamamu”

Kamu lalu berdiri dan mengulurkan tangan, kamu dapat apa yang kamu inginkan



Genggamanmu memang tak sehangat sweater rajutan nenek,

Namun, sepertinya kamu telah berusaha menyalakan tungku api di hatiku, dengan mengatakan :

“Tenang. Ada aku. Semuanya akan baik-baik saja” lalu tersenyum simpul



Setelah badai air mata, titik air yang disinari sorot mata benderangmu

Membuat selengkung pelangi itu pun akhirnya kembali muncul

Lamunanku pecah saat hujan akhirnya reda, menyadarkan bahwa itu adalah kenangan indah



Yang tersisa hanyalah hujan baru.

Di mataku, karena rindu yang tak kunjung terbalaskan

Baik. Aku biarkan kamu pergi bersama hujan ini dengan membawa hatiku

Tapi beri tahu aku, siapa sebenarnya yang membawa hatimu, hingga kamu tak memilikinya sama sekali untukku?



Satu hal yang paling aku sesalkan :

Bagaimana mungkin hadir lagi sebuah pelangi di senyum yang basah ini?

Sedangkan kamu, sang mentari, pergi dibayangi awan kelabu penutup mimpi

Kembalilah, buat senyumku berwarna lagi

Atau cukup ketuk saja kelopak mataku jika kamu sudah temukan lagi kuas pelangi kasih itu.



NB : Tak ada yang lebih membelenggu dari ungkapan rindu yang tak tepat waktu



-ditulis di sebuah sore yang basah dan nyaris banjir, memecahkan bendungan rindu-



Lumayan panjang. Panjang banget maksudnya..
Inspirasi dari beberapa racikan Oka yang gue satuin. #HAHAINGUWEHDONG

Jadi yang punya masalah seperti Kira si curut yang ga ganti duit gue buat beli tissue tadi ini, gue cuma bisa geleng kepala lalu tegasin :

“Terus aja yang ramah dikit dianggap suka. Emang hobi banget nyiksa diri sendiri”

Hubungannya jadi ga jelas sama doi. Temen ga, sahabat ga, gebetan udah ga mungkin, pacaran apalagi, ttman? Apa dia mau?





Man. Jangan ditambahin masalahnya Indonesia lah, udah cukup demokrasinya yang bobrok, jangan bobrok juga asmara masyarakatnya. Jodoh mah ga kemana, Tuhan udah sediain juga haha timingnya aja ga pas. DAN Udah cukup partai P*P dan G*lkar yang ga jelas, ga dengan status kalian. Masih terhormat Jomblo kalau gitu mah *Cengir dengan sudut bibir melewati telinga asimetris*



Tiba-tiba hp getar, oh si Kira..

“Halo taa? Lo mau miras oplosan?” Zzzzzzz!

“Eh Ki, miras oplosan? Yang memabukkan dan mematikan yah? Kayak cinta palsu aja. Haha”

“Tutt, tutt, tutt .. ” *Kira tiba-tiba tarik tissue*

BAYAR TISSUE YANG TADI DULU AJAH BELOM, UDAH MAU AMBIL TISSUE PACK BARUKK?!



Udah ah, jadi gaje gini

Mending main-main ke masa lalu ah..



Assalamualaikum *kasi senyum yang diusahain banget cantik, manis dan cerianya*


Eh, ga jadi.. serem!

*lari balik ke dunia nyata*

Mari Mensiswakan Siswa!


Assalamualaikum

“KAMI LEGA PAKE H JADI LEGAHHHHHH!”
*Bakar ban.. ikan bandeng maksudnya*
 
Kira-kira seperti itulah ungkapan perasaan dari beberapa siswa-siswi SMA di kota Makassar.
Tentunya gue salah satu dari mereka yang telah lama menunggu tanggal 10 ini, hari terakhir ujian *ketawa setan*. 

Dari ujian yang hampir buat gue anemia karena mimisan mulu, gue banyak dapet pelajaran tentang pahitnya jadi pelajar. Gue baru sadar ternyata ada beberapa hal yang selama ini gue ludahin. Gue anggep remeh. Tapi beh, itu ngg..

Mulai dari gagalnya gue belajar sampe gagalnya gue nyontek yang tentunya merujuk pada gagalnya gue menjadi siswa. Penyesalan main ayunan dalam pikiran gue.
Ujian hari pertama yang harusnya gue sama Tuhan kolaborasi saling menciptakan simbiosis mutualisme, sangat di luar dugaan. Akhirnya dengan bengis, benteng pertahanan yang gue udah tetapin dari awal masuk kelas 2 SMA itupun hancur, benteng yang bertuliskan “GA BOLEH NYONTEK, NYONTEK IS LEMAH”

Kejadian itu terlalu cepat buat dicerna oleh pikiran.

Saat itu –saat LJK dan lembaran soal dibagiin, jujur otak gue seolah berhenti bekerja memproses segalanya, seolah lumpuh dan tidak bisa berfungsi lagi *jiwa puitis mencuat*. Gue tiba-tiba jadi buta aksara. Gue bilang apa? Yang diajarin temen emang beda yang masuk di soal, ini soal aliran sesat.

Asal kalian tahu teman-teman
“Ada saat dimana kita terlalu takut hingga kita lupa untuk menggunakan akal kita untuk berfikir jernih.” 
Dan saat itu adalah saat ini. Saat gue ujian dan duduk di bangku paling depan plus ga nguasain materinya. Clear bego!
Rasa takut gue bahkan buat otak gue ngambil alih pergerakan tubuh gue, dengan cepat memerintahkan syaraf gue untuk segera menyelamatkan masa depan dengan menyontek. Akal sehat gue menjerit protes, “udah 30 menit lo baru isi biodata? Sadarrr, waktu ga nungguin kamu”


Satu hal yang harus kalian ketahui tentang gue, gue adalah tipe cewek yang lebih memilih nyaman untuk menghadapi suatu konsekuensi yang diakibatkan oleh tindakan ceroboh  gue sendiri dibandingkan harus berhati-hati. Itulah cara terbaik dalam mekanisme pertahanan diri di kehidupan yang selama ini gue jalankan.

Gue memanfaatkan posisi yang kurang memberuntungkan ini untuk segera dengan sigap dan lincah balik ke belakang, “lo udah nomor berapa?”. Dengan gaya curut lagi sante temen gue ini jawab, “gue baru isi nama”. Gue kejang-kejang di tempat. Niat nyontek gue seketika berubah jadi niat pengen serut kepalanya sampe runcing terus gue pake buat bundalin kertas LJK. Meskipun suka banget gue tanya terus jawabannya “gue ga tau”, entah kenapa gue tetep aja selalu memilih balik ke belakang buat nanyak jawaban lagi dan lagi. Dia seperti punya magnet sendiri untuk menarik mata dan badan gue supaya terus nanya ke dia, padahal gue sadar sendiri.. gue masih mendingan dari dia *sempetin baikin image*

Ga lama kemudian, tangan Tuhan bergerak. Guru yang ngawasin ruangan gue nyadarin kebiadaban gue. Pengawasnya makin dekat sama gue. Ternyata gotcha! Gue kena teguran. Mata pengawasnya kayak ngelempar pisau daging ke arah gue. Kedenger jelas suara jantung gue berdegup kencang memompa darah keseluruh tubuh *puitis lagi*. Kilahan gue buat ngebela diri mulai terbata-bata karena kehabisan oksigen di paru-paru. Gue dengan pasrah neguk habis marahan yang dilempar bertubi-tubi bermajas sarkasme dari si pengawas.

Gue benar-benar sial hari itu, kedapetan nyontek dan setengah mati mendem malu sampai di ubun-ubun bukanlah berkah yang harus disyukuri.

Setelah kegagalan nyontek itu, gue langsung balik ke rumah dengan wajah pasrah. Kakak sepupu gue dengar kronologi nyontek gagal ala gue, dia malah ketawa geli. Dia bilang, “ini kedengaran licik banget buat diketawain tapi ga ada salahnya matahin keseriusan”
Nurani gue mengejek diri gue sendiri. Biasanya gue ga sedrop gini. “andai aja abang masih ada, dia pasti udah ajarin gue mati-matian”, Cuma itu yang berputar-putar dalam pala gue.

Di tengah malam setelah sholat tahajjud gue duduk di pinggir tempat tidur sambil baca buku dengan tampang (sok) frustasi. Badan gue bahkan ga nyentu pacar gue (baca:kasur gue) sama sekali. Gue hanya nyoba untuk menguasai materi ujian selanjutnya. Kesalahan gue emang udah dari awal, nyia-nyiain waktu banget. Seperti
biasa, “penyesalan selalu datang telat”. Tapi gue ga mau stuck aja, KENAPAHH? NIH ALESANNYA! NAH!

Tiba-tiba kakak sepupu gue dengan kebaikan yang ga fatamorgana bawain ember yang isinya air hangat lengkap sama waslapnya, “Kita itu sama. Gue pernah drop karena ga pede sama kertas LJK yang harus keisi dalem 2 jam dan yang gue butuhin waktu itu cuma rileks dan belajar. Gue kira lo butuh ini buat rileks” setelah gitu dia liat materi gue, ternyata dia lumayan juga. Jadilah besok paginya, berbekal ngemis-ngemis sama Tuhan buat dilancarin ujiannya, gue masuk ruangan. Selama ujian Alhamdulillah! Gue udah mule ga ngemis dikit demi dikit, gue cuma nanya rumus doang.



Kita hanya berusaha belajar buat UAS, baik-tidaknya temen pula yang akhirnya menentukan
-Anonim-

Awal baca kutipan yang dijadiin pe’em sama temen di be’em itu gue diem-diem setuju. Setelah (pulang dari klinik tongsampah) kedapetan nyontek, pandangan hidup gue berubah. Ga sadar Tuhan banget gue ternyata
Padahal Tuhan udah ngasi kita contoh pelajaran “kita ga selalu bisa dapetin yang kita mau” yaitu ketika kita belajar mati-matian nilai pas-pasan, yang lain ga belajar nilai gede. Jadi percuma juga, pinter tapi (ga bagi-bagi jawabannya) ga taat ibadahnya. Tuhan mah bisa aja tuh, nyabut kepintaran kita sekedip mata. kan ada saatnya ketika orang pintar kalah sama orang yang beruntung. 

Ini juga, siswa yang tipenya kayak gue (selalu ngemis sama yang lain) coba deh belajar dengan baik, hargain waktu, focus sama target masa depan. Main? Main boleh, yang ga boleh itu main ke rumah mantan saat belajar. Kan enak tuh kuasain materinya, ga capek nyari jawaban lagi. Gue sih jujur capek banget gelisah saat semuanya udah pada ngumpul, lah gue baru nomor 15. Belum lagi kedapetan nyontek, ga malu?

Ohiya sori, ga malu mah sekarang udah jadi suatu kebanggan yah?
Wow! Dunia penuh kejutan.

Tapi dari semua itu, gue akhirnya dapet satu hal yang jadi pengobat kegaloan yang ga jelas banget. Akhirnya dengan sangat indah, mimpi yang selama ini kami harapkan terkabulkan. Kemendikbud bisa merasakan kegagalan kami menjadi siswa selama kurikulum 2013 diberlakukan di Indonesia akhirnya DIHENTIKAN! HAHA. 

Jujur sih yah ini adalah suatu kehormatan bagi kami yang patut diapresiasikan dengan senyuman lebar melewati telinga. Itu sebagai ungkapan hormat kami kepada keputusan yang amat sangat bijak oleh prof. anies baswedan. Gue jadi keinget pernah ngetweet ucapan buat pak anies baswedan sewaktu dilantik kemarin, gue sekalian nyinggung kurikulum 2013 sih. 



Akhir kata gue cuma mau mastiin di soal UAS kamu ga ada pertanyaan “emang kamu siapanya dia?”
Ga ada? Oh, Aman kalau gitu.

Eh gue ga jadi akhirin dengan pertanyaan itu deh, gue mau akhirin dengan ngasih kutipan dari gue pribadi

“Sesulit-sulitnya pertanyaan dari soal UAS, masih ga ada yang ngalahin sulitnya pertanyaan hai apa kabar mantan? Kamu udah sholat?”