Tampilkan postingan dengan label #LagiWaras. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #LagiWaras. Tampilkan semua postingan

Sky, Why Are You Sad?

Assalamualaikum

*masuk sambil bales sms temen*



“Ki. Keadaan gimana sekarang? Udah enakan? Kalau butuh temen lagi panggil gue aja, kebetulan gue kosong nih hehe”

Kurang lebih itu yang tampak pada layar hp gue yang habis gue ketik. Tentunya ditujukan oleh tetangga gue yang sekarang udah pindah jauh ke alam lain –maapin kakah Kira.



Kemarin anak curut ini, gue temenin ngegalau. Di saat gue lagi  ngelatih insting goku gue, matengin jurus super saiya dengan konsentrasi lebih tinggi, dia nelfon gue dengan nada ga nyante nyolotnya nyuru gue ke rumahnya. Karena dia bareng gue udah kayak sodaraan, gue okein



Ketahuilah saat itu hujan deras disertai kilat dan petir yang menghujam terus-menerus permukaan bumi di Makassar! *padahal cuma gerimis dan di pinggir jalan banyak yang ngepaparazi kena blitz kamera haha*



Gue sampe di rumahnya pake acara basah-basahan sambil salemin bokapnya –for your information, nyokapnya udah meninggal, ini yang buat gue care sama dia. Nyokap gue kenal dekat sama keluarganya. Jadi kalau ada masalah bareng dia, Cuma gue yang dipanggil buat nenengin dia. 

Setelah mandi dikit dan dibikinin susu anget sama bokapnya , gue deklarasiin kalau gue siap dengerin ceritanya sambil duduk di sofa depen jendela yang ngeviewin jalan raya live




Hujan yang berkolaborasi dengan alunan musik klasik dari radio kamarnya, buat suasana galo mengental. Sayangnya gue lagi ga mood buat galo. Cerita demi cerita dia lontarin dan yang gue tangkep Cuma, “Harusnya yang ada di depennya sekarang itu bukan gue, tapi gebetannya dia. Gebetannya dia emang selalu siap kapan aja dengerin dia curhat, entah soal pacarnya atau soal keluarganya. Tapi sekarang gebetannya udah banting stir”



Gue baru sadar sekarang, nih anak udah punya pacar eh masih ngeharap sama gebetan. Satu-satu kali kii! Jangan diborong, buat gue manahhh? *cakar-cakar mukanya Kira*




Dia galaunya ga main-main, habisin tissue 3 pack, itu tuh sakitnya di dompet gue. Yang galo siapa, yang beli tissue siapakkk?

Stress sendiri
 

Berkaca dari dia, entah kenapa jiwa puitis gue keluar.

Sampe rumah –yey akhirnya punya rumah juga, gue Cuma baringan bentar, coba meresapi perasaan dia. En den.. Gue bangun bawa sejumlah kertas dan pensil sama pasangannya, si pengapus –ciee couple. gue otw ke roof top. 



Di roof top masih kayak kemarin, langit masih dihiasi  awan kelabu cantik. Gue duduk, gue berpikir, coba mendengarkan kata hati sendiri dan coba tulis apa aja yang terlintas di otak gue.

Setelah beribu-ribu detik gue laluin sambil menghapus, merobek dan membuang kertas-kertas yang isinya kurang pas, ini lah hasilnya (dengan berbagai pemikiran hebat sampe-sampe menimbulkan konspirasi gue bareng nyamuk, gue jadi ubah sudut pandang puisinya jadi si Kira)

Enjoy!




                                                Sesederhana Hujan

Senang rasanya, dapat kembali ke secarik kertas ini

Kertas   yang geli kusebut diary   yang menjadi cawan kemudian kutuangi cerita

Cerita curahan hati alam bawah sadar



Ting. Ting. Ting

Putaran sendok searah jarum jam mengitari diameter cangkir susu hangatku

Sengaja kubuat untuk menyambut hujan di luar sana




Ah, hujan ..

Aku selalu berterima kasih pada hujan, mereka telah memberiku kesempatan

Kesempatan untuk melamun, tentunya..




Tetesan hujan dari luar yang nampak memaksa masuk namun terhalang kaca

Tetesannya bersatu menjadi sebuah aliran air yang menuruni jendela

Seolah tak lagi ada harapan untuk bisa masuk

Hingga akhirnya, gravitasi membuatnya rela luruh ke tanah

Sayangnya, Mereka  tetesan hujan- terlalu kilat putus asa

Sama halnya denganku, buruk.



Air hujan yang lainnya bahkan jatuh menghantam jalanan membentuk seperti jarum

Begitu terasa menusuk dan sakit walau sedikit

Membuatku terhenyak walaupun sejenak



Seperti biasa, aku melamun di sofa menatap jendela kusang

Menyaksikan air turun deras, membasahi jalan yang mulai sepi

Bagai melihat film yang berjudul namamu

Semua hanya wajahmu yang terproyeksikan

Lalu, terlintas di benakku peristiwa seminggu kemarin.. 



Saat itu aku datang menghampirimu dengan langkah kaki menggebu

Seolah deretan kata dalam tenggorokanku berdesak, ingin keluar

Hari itu tidak hujan, terbukti setelah aku menengadahkan tanganku di bawah langit biru

Kamu tiup kursi penuh debu, memastikan cukup bersih untuk aku bebani



Kamu seketika mengubah diri menjadi telinga

Semua gundah, kulontarkan dalam bentuk frasa.

Tentang seseorang di luar sana, yang mencoba menyakitiku

Kamu menatapku lekat-lekat, mencoba mengidentifikasi  petir dan guntur di mataku

Hingga akhirnya, hujan pun turun



Kamu menengadahkan tangan ke bawah langit, persis yang kulakukan tadi

Kamu memasang mimik yang membingungkanku

Lalu kamu menengadahkan tangan ke bawah pipiku

hujan air mata deras berjatuhan

Ejekan mu selalu begitu lembut



Lalu, kamu menyentuh pipi yang basah itu, seolah berkata :

“hanya untuk memastikan, aku cukup basah untuk kehujanan di sana bersamamu”

Kamu lalu berdiri dan mengulurkan tangan, kamu dapat apa yang kamu inginkan



Genggamanmu memang tak sehangat sweater rajutan nenek,

Namun, sepertinya kamu telah berusaha menyalakan tungku api di hatiku, dengan mengatakan :

“Tenang. Ada aku. Semuanya akan baik-baik saja” lalu tersenyum simpul



Setelah badai air mata, titik air yang disinari sorot mata benderangmu

Membuat selengkung pelangi itu pun akhirnya kembali muncul

Lamunanku pecah saat hujan akhirnya reda, menyadarkan bahwa itu adalah kenangan indah



Yang tersisa hanyalah hujan baru.

Di mataku, karena rindu yang tak kunjung terbalaskan

Baik. Aku biarkan kamu pergi bersama hujan ini dengan membawa hatiku

Tapi beri tahu aku, siapa sebenarnya yang membawa hatimu, hingga kamu tak memilikinya sama sekali untukku?



Satu hal yang paling aku sesalkan :

Bagaimana mungkin hadir lagi sebuah pelangi di senyum yang basah ini?

Sedangkan kamu, sang mentari, pergi dibayangi awan kelabu penutup mimpi

Kembalilah, buat senyumku berwarna lagi

Atau cukup ketuk saja kelopak mataku jika kamu sudah temukan lagi kuas pelangi kasih itu.



NB : Tak ada yang lebih membelenggu dari ungkapan rindu yang tak tepat waktu



-ditulis di sebuah sore yang basah dan nyaris banjir, memecahkan bendungan rindu-



Lumayan panjang. Panjang banget maksudnya..
Inspirasi dari beberapa racikan Oka yang gue satuin. #HAHAINGUWEHDONG

Jadi yang punya masalah seperti Kira si curut yang ga ganti duit gue buat beli tissue tadi ini, gue cuma bisa geleng kepala lalu tegasin :

“Terus aja yang ramah dikit dianggap suka. Emang hobi banget nyiksa diri sendiri”

Hubungannya jadi ga jelas sama doi. Temen ga, sahabat ga, gebetan udah ga mungkin, pacaran apalagi, ttman? Apa dia mau?





Man. Jangan ditambahin masalahnya Indonesia lah, udah cukup demokrasinya yang bobrok, jangan bobrok juga asmara masyarakatnya. Jodoh mah ga kemana, Tuhan udah sediain juga haha timingnya aja ga pas. DAN Udah cukup partai P*P dan G*lkar yang ga jelas, ga dengan status kalian. Masih terhormat Jomblo kalau gitu mah *Cengir dengan sudut bibir melewati telinga asimetris*



Tiba-tiba hp getar, oh si Kira..

“Halo taa? Lo mau miras oplosan?” Zzzzzzz!

“Eh Ki, miras oplosan? Yang memabukkan dan mematikan yah? Kayak cinta palsu aja. Haha”

“Tutt, tutt, tutt .. ” *Kira tiba-tiba tarik tissue*

BAYAR TISSUE YANG TADI DULU AJAH BELOM, UDAH MAU AMBIL TISSUE PACK BARUKK?!



Udah ah, jadi gaje gini

Mending main-main ke masa lalu ah..



Assalamualaikum *kasi senyum yang diusahain banget cantik, manis dan cerianya*


Eh, ga jadi.. serem!

*lari balik ke dunia nyata*

Mari Mensiswakan Siswa!


Assalamualaikum

“KAMI LEGA PAKE H JADI LEGAHHHHHH!”
*Bakar ban.. ikan bandeng maksudnya*
 
Kira-kira seperti itulah ungkapan perasaan dari beberapa siswa-siswi SMA di kota Makassar.
Tentunya gue salah satu dari mereka yang telah lama menunggu tanggal 10 ini, hari terakhir ujian *ketawa setan*. 

Dari ujian yang hampir buat gue anemia karena mimisan mulu, gue banyak dapet pelajaran tentang pahitnya jadi pelajar. Gue baru sadar ternyata ada beberapa hal yang selama ini gue ludahin. Gue anggep remeh. Tapi beh, itu ngg..

Mulai dari gagalnya gue belajar sampe gagalnya gue nyontek yang tentunya merujuk pada gagalnya gue menjadi siswa. Penyesalan main ayunan dalam pikiran gue.
Ujian hari pertama yang harusnya gue sama Tuhan kolaborasi saling menciptakan simbiosis mutualisme, sangat di luar dugaan. Akhirnya dengan bengis, benteng pertahanan yang gue udah tetapin dari awal masuk kelas 2 SMA itupun hancur, benteng yang bertuliskan “GA BOLEH NYONTEK, NYONTEK IS LEMAH”

Kejadian itu terlalu cepat buat dicerna oleh pikiran.

Saat itu –saat LJK dan lembaran soal dibagiin, jujur otak gue seolah berhenti bekerja memproses segalanya, seolah lumpuh dan tidak bisa berfungsi lagi *jiwa puitis mencuat*. Gue tiba-tiba jadi buta aksara. Gue bilang apa? Yang diajarin temen emang beda yang masuk di soal, ini soal aliran sesat.

Asal kalian tahu teman-teman
“Ada saat dimana kita terlalu takut hingga kita lupa untuk menggunakan akal kita untuk berfikir jernih.” 
Dan saat itu adalah saat ini. Saat gue ujian dan duduk di bangku paling depan plus ga nguasain materinya. Clear bego!
Rasa takut gue bahkan buat otak gue ngambil alih pergerakan tubuh gue, dengan cepat memerintahkan syaraf gue untuk segera menyelamatkan masa depan dengan menyontek. Akal sehat gue menjerit protes, “udah 30 menit lo baru isi biodata? Sadarrr, waktu ga nungguin kamu”


Satu hal yang harus kalian ketahui tentang gue, gue adalah tipe cewek yang lebih memilih nyaman untuk menghadapi suatu konsekuensi yang diakibatkan oleh tindakan ceroboh  gue sendiri dibandingkan harus berhati-hati. Itulah cara terbaik dalam mekanisme pertahanan diri di kehidupan yang selama ini gue jalankan.

Gue memanfaatkan posisi yang kurang memberuntungkan ini untuk segera dengan sigap dan lincah balik ke belakang, “lo udah nomor berapa?”. Dengan gaya curut lagi sante temen gue ini jawab, “gue baru isi nama”. Gue kejang-kejang di tempat. Niat nyontek gue seketika berubah jadi niat pengen serut kepalanya sampe runcing terus gue pake buat bundalin kertas LJK. Meskipun suka banget gue tanya terus jawabannya “gue ga tau”, entah kenapa gue tetep aja selalu memilih balik ke belakang buat nanyak jawaban lagi dan lagi. Dia seperti punya magnet sendiri untuk menarik mata dan badan gue supaya terus nanya ke dia, padahal gue sadar sendiri.. gue masih mendingan dari dia *sempetin baikin image*

Ga lama kemudian, tangan Tuhan bergerak. Guru yang ngawasin ruangan gue nyadarin kebiadaban gue. Pengawasnya makin dekat sama gue. Ternyata gotcha! Gue kena teguran. Mata pengawasnya kayak ngelempar pisau daging ke arah gue. Kedenger jelas suara jantung gue berdegup kencang memompa darah keseluruh tubuh *puitis lagi*. Kilahan gue buat ngebela diri mulai terbata-bata karena kehabisan oksigen di paru-paru. Gue dengan pasrah neguk habis marahan yang dilempar bertubi-tubi bermajas sarkasme dari si pengawas.

Gue benar-benar sial hari itu, kedapetan nyontek dan setengah mati mendem malu sampai di ubun-ubun bukanlah berkah yang harus disyukuri.

Setelah kegagalan nyontek itu, gue langsung balik ke rumah dengan wajah pasrah. Kakak sepupu gue dengar kronologi nyontek gagal ala gue, dia malah ketawa geli. Dia bilang, “ini kedengaran licik banget buat diketawain tapi ga ada salahnya matahin keseriusan”
Nurani gue mengejek diri gue sendiri. Biasanya gue ga sedrop gini. “andai aja abang masih ada, dia pasti udah ajarin gue mati-matian”, Cuma itu yang berputar-putar dalam pala gue.

Di tengah malam setelah sholat tahajjud gue duduk di pinggir tempat tidur sambil baca buku dengan tampang (sok) frustasi. Badan gue bahkan ga nyentu pacar gue (baca:kasur gue) sama sekali. Gue hanya nyoba untuk menguasai materi ujian selanjutnya. Kesalahan gue emang udah dari awal, nyia-nyiain waktu banget. Seperti
biasa, “penyesalan selalu datang telat”. Tapi gue ga mau stuck aja, KENAPAHH? NIH ALESANNYA! NAH!

Tiba-tiba kakak sepupu gue dengan kebaikan yang ga fatamorgana bawain ember yang isinya air hangat lengkap sama waslapnya, “Kita itu sama. Gue pernah drop karena ga pede sama kertas LJK yang harus keisi dalem 2 jam dan yang gue butuhin waktu itu cuma rileks dan belajar. Gue kira lo butuh ini buat rileks” setelah gitu dia liat materi gue, ternyata dia lumayan juga. Jadilah besok paginya, berbekal ngemis-ngemis sama Tuhan buat dilancarin ujiannya, gue masuk ruangan. Selama ujian Alhamdulillah! Gue udah mule ga ngemis dikit demi dikit, gue cuma nanya rumus doang.



Kita hanya berusaha belajar buat UAS, baik-tidaknya temen pula yang akhirnya menentukan
-Anonim-

Awal baca kutipan yang dijadiin pe’em sama temen di be’em itu gue diem-diem setuju. Setelah (pulang dari klinik tongsampah) kedapetan nyontek, pandangan hidup gue berubah. Ga sadar Tuhan banget gue ternyata
Padahal Tuhan udah ngasi kita contoh pelajaran “kita ga selalu bisa dapetin yang kita mau” yaitu ketika kita belajar mati-matian nilai pas-pasan, yang lain ga belajar nilai gede. Jadi percuma juga, pinter tapi (ga bagi-bagi jawabannya) ga taat ibadahnya. Tuhan mah bisa aja tuh, nyabut kepintaran kita sekedip mata. kan ada saatnya ketika orang pintar kalah sama orang yang beruntung. 

Ini juga, siswa yang tipenya kayak gue (selalu ngemis sama yang lain) coba deh belajar dengan baik, hargain waktu, focus sama target masa depan. Main? Main boleh, yang ga boleh itu main ke rumah mantan saat belajar. Kan enak tuh kuasain materinya, ga capek nyari jawaban lagi. Gue sih jujur capek banget gelisah saat semuanya udah pada ngumpul, lah gue baru nomor 15. Belum lagi kedapetan nyontek, ga malu?

Ohiya sori, ga malu mah sekarang udah jadi suatu kebanggan yah?
Wow! Dunia penuh kejutan.

Tapi dari semua itu, gue akhirnya dapet satu hal yang jadi pengobat kegaloan yang ga jelas banget. Akhirnya dengan sangat indah, mimpi yang selama ini kami harapkan terkabulkan. Kemendikbud bisa merasakan kegagalan kami menjadi siswa selama kurikulum 2013 diberlakukan di Indonesia akhirnya DIHENTIKAN! HAHA. 

Jujur sih yah ini adalah suatu kehormatan bagi kami yang patut diapresiasikan dengan senyuman lebar melewati telinga. Itu sebagai ungkapan hormat kami kepada keputusan yang amat sangat bijak oleh prof. anies baswedan. Gue jadi keinget pernah ngetweet ucapan buat pak anies baswedan sewaktu dilantik kemarin, gue sekalian nyinggung kurikulum 2013 sih. 



Akhir kata gue cuma mau mastiin di soal UAS kamu ga ada pertanyaan “emang kamu siapanya dia?”
Ga ada? Oh, Aman kalau gitu.

Eh gue ga jadi akhirin dengan pertanyaan itu deh, gue mau akhirin dengan ngasih kutipan dari gue pribadi

“Sesulit-sulitnya pertanyaan dari soal UAS, masih ga ada yang ngalahin sulitnya pertanyaan hai apa kabar mantan? Kamu udah sholat?”

UAS Risau?


Assalamualaikum
Selamat pagi
Selamat UAS!
*masuk sambil gendong meja belajar*


Hari ini hari kamis, 04 November 2014. Hari pertama UAS bagi sebagian siswa di sekolahan Makassar. Harusnya gue belajar kayak anak yang lain, ga nakal keliaran di blog jam segini *masuk siang kakahhh*.

Di dunia ini tidak ada orang yang mau gagal –tak terkecuali anak curut kayak gue-  tentunya ga ada yang mau, semua yang dikerjakan berjalan dengan ga lancar. Sama halnya dengan kami –angkatan yang jadi tikus percobaan 20 paket dan kurikulum 2013- juga ga mau, UAS kali ini bikin kita mimisan berjama’ah.
Bisa dikatakan UAS adalah titik puncak perjuangan belajar selama satu semester ini. dan udah tentu nilai UAS sangat menentukan kelulusan dari mata pelajaran sekolah yang diambil. jadi, ga usah sok heran kalau kita berharap untuk bisa menjawab soal-soal nantinya dengan lancar dan tentunya mendapat nilai yang memuaskan.

Jujur tadi malam, gue belum juga nyentuh apalagi liat buku pelajaran. Buku pelajaran ada di rumah sedangkan gue lagi di rumah lain. Kampretnya, gue pake lupa buku-buku. Pengen ngambil balik, gue kesandung hujan. Wajarlah, Novembrrr!
Pas malam kamis kemarin, baru aja lewat magrib, yang kebayang udah senin aja

RUMUS UMUM UJIAN >> Hari Biasa + UAS = ga mau tidur biar gak cepet besok

Iya. Gue ga sengaja takut. Entah kenapa gue jadi freak sendirian. Makanin kertas buku satu-satu gitu. Sebelumnya gue ga pernah kayak gini nih, tetep sante aja kalau UAS. 
Tapi setelah Negara Api menyerang.. semuanya berubah!

“Ta, ngelamun mulu?”
“Ta, mata lo berkaca-kaca gitu?”
“lo kenapa?”

Pftt. Padahal gue berasa fine aja. Mungkin gue pake acara-acara diam gitu kali yak? Orang ngelucu, yang biasanya gue timpalin sekarang udah ga mau gue.

Percayalah kawan-kawan, kalian.. BENAR! Maksud gue, kalian SALAH!

Gue cuma ga enak aja. Ini baru pertama kalinya gue UAS semester ganjil di sekolah, ga ditemenin abang lagi. Biasanya kalau ada materi sekolahan yang gue kurang paham, kurang kuasai. Gue bertapa dalem kamarnya dia, minta dibantuin jelasinnya. Bahkan beberapa kali gue sempet ribetin dia banget, gue Cuma ga ngerti aja. Tapi semakin dijelasin, makin ga ngerti. Dia keluar kamar sambil marah-marah. Gue ngedrop. Dia balik bawa martabak. Gue ngeup. Ternyata emang gampang balikin konsentrasi gue, Cuma martabak *cengir kuda*. Padahal pas UAS kelas satu kemarin, dia masih ngegep gue ngemis minta bantuan jawaban sama temen. Itu jewerannya sampe sekarang masih berasa.. *sambil pegang-pegang hidung* #salahfokus

Ini juga UAS pertama gue yang ga bareng keluarga yang lain. Itu rasanya.. *naikin bola mata, trible lalu shoot!*

Pagi ini gue bangun > ngambil anduk > nyalain TV > nyari kartun > ketiduran > anduk jadi selimut. *huft ga nyantai* Bangun-bangun harusnya gue mikirin kamuhh *eh* tapi sekarang beda, gue bangun-bangun udah mikirin UAS aja. Kamu kesingkir sama UAS, lemah!

Menu sarapan pagi ini pun beda banget, cuma: Baca buku pelajaran temen lain. Cuma gue kekenyangan, jadi baru tiga kalimat otak gue udah minta istirahat. Treatment istirahatnya juga banyakan ngemil dan nonton. Akhirnya ke sekolah lupa bawa percaya diri. Percaya diri jadinya ngemis lagi ke temen lain.

Gue jadi suka ngeluh kalau dijelasin sama temen yang baik hati. “ini kok susah ya?” dan akhirnya “udah ah, pasrah aja. Kerja aja yang gue bisa kerja”

Temen nampar gue pakek –pengennya sih pake martabak- “Ta. Ga apa ngeluh tapi ngeluhnya sambil dijalanin. Jadi pas ngeluhnya selesai, masalahnya juga ikut kelar”

Gue harus akui, that’s right!

Setelah dijelasin dan udah mayan ngerti sama materinya, gue coba refreshing ke roof top. Jadilah gue di sini sekarang. Hujan semalam nyisahin beberapa genangan air. Awan masih se-sad kemarin, cuma kali ini ga begitu menyedihkannya dari perasaan gue sekarang.

Gue duduk sambil mainin laptop disponsori dengan keluhan, “gimana kalau semester ini gue ga lulus? Jadi apa gue ntar?”

“Banyak yang kesiksa karena dia pemikir. Bedanya, ada yang setelah mikir lalu bertidnak ada juga yang setelah mikir yah mikir lagi”

Mungkin gue salah satu tipe pemikir ke dua. Gue ga tau kudu gimana lagi? Saat lo selama 6 bulan kemarin sempat pandang entengin pelajaran, lo harus gimana pas UAS? Itu gue ga kebayang, akan berapa ribu sel yang mati saat gue dibagiin soalnya dan ternyata soalnya ngg.. ga ada satupun yang lo ngerti? Gue bakalan gondok dan lebih memilih pura-pura mati x_x
Akhirnya dengan keluhan yang gue borong itu, gue sekali lagi dapet tendangan dari temen yang ngingetin :

 “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi ?Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”  
Qs. Al-Ankabut : 2-3

Plus

 “….dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yg kafir.” 
Qs. Yusuf : 12

Gue nyesel jadi kafir, selama ini suka putus asa mulu. Parahnya gue baru sadar sekarang. Hahanya gue *tarik tissue*
Gue baru sadar akan ‘Penyakit menimbun dan membiarkan masalah jadi gede adalah masalah kronis, padahal gue belum coba’.
Sekarang gue jadi ngerti, kita dijatohin mulu sama berbagai macam masalah tujuannya apaan. Menurut gue sih, itu supaya kita ga berhenti berharap aja sama Tuhan. Iya. Berharap dengan berdoa bahwa keadaan akan menjadi baik dan terus membaik.
Bukannya harus ada keadaan buruk dulu sebelum keadaan baik?

Jadi sebenarnya intinya simple –Cuma pribadi gue aja yang ribetin-
 inti dari semua masalah adalah agar manusia semakin memahami apa yang harus dicari selama hidup.

Sekarang yang gue butuhin adalah : Sandang, Pangan, buku pelajaran, pasangan!

Sekian dari gue. Semoga Tuhan masih berada di pihak kita, semoga ujiannya sukses (sampe tanggal 10) dan semoga pengawasnya bersahabat (bisa ditanya dikit gitu. Saling membantulah, kita ciptain hubungan simbiosis mutualisme maksud gue mungkin komensalisme)

Assalamualaikum *salto-salto sambil baca rumus fisika*

Selamat Hari Guru! #Latepost

*Pake sepatu*
*Rapiin seragam*
*tegapin badan*
*pake topi upacara*
*Tatapan angkuh ke depan dengan berani yang overdosis*
*latar di balik badan seperti sekolahannya heri poter*
*tiba-tiba keputar backsound nyeremin*
*pasang kuda-kuda*
*dehem dikit*
*lalu tereak*
..

SELAMAT HARI GURU, WAHAI MAKHLUK-MAKHLUK CIPTAAN ALLAH YANG SEMPURNA ABIS DENGAN ILMU DAN KESABARAN GA NYANTAI YANG UDAH NGAJARIN GUE BANYAK HAL. 

EN DEN.. LUK! GUE SAMPAI SAAT INI JADI TEMPAT SAMPAH, SETIDAKNYA ITU DIBUTUHIN JUGA. YAH, GUE MASIH DALAM PROSES PEMBENTUKAN JATI DIRI. SIAPA TAU GUE BESOK-BESOK UDAH JADI ORANG YANG BUANG SAMPAHNYA


Sebelumnya gue minta maaf, ngepost tentang hari gurunya telat abis. Gue ga apdet. Laptop temen, kemarin ngalahin gawlnya gue. Dia ngembat kopinya setarbaks jumbo yang emang harusnya diperuntukkan buat 3 anak curut, gue bareng temen yang lainnya. Jadi tepos -telat posting- deh gue. Walaupun gue telat mosting juga ga ada yang ngehirauin. Gue kurang pendekatan sama yuser-yuser blog yang lain. Maklum, gue pemalu hihi. Takut dikira sokenal, sodekat! gitcuuh. Jadi gue pasrah lah kalau emang ga ada yang mau bacak. hiks *nangis di pojokan entri*

Biar asik, gue terima kasih satu-satu aja kali yah sama guru-guru gue selama gue hirup oksigen?
Oke. Biar kelihatan keren, gue ala-ala pembina upacara naik ke mimbar upacar aja. Kostum gue juga kayaknya buru diganti aja yah?
Kostum supermen? Oh ga mungkin, ini bukan waktunya untuk nolongin kucing di atas pohon
Kostum sepidermen? yakaleee, gue pidatonya sambil jongkok-jongkok ngerangkak gituu
Kostum ala-ala pahlawan dulu? terlalu tua buat gue
Ga ada yang cocok perasaan, ah bodoh ah..
Gue mulai aja pake baju kantoran, biar dikira udah sukses.. aamiin! *udah exit aja, intinya juga kosong kok*

1. Gue terima kasih abis buat guru sekolahan gue. Mulai dari guru TK sampai guru SMA sekarang. Kalian udah ngajarin banyak hal yang berartinya juga ga tanggung-tanggung. Tanpa kalian, mungkin gue udah ga tau bernafas dan mati begok karena harus ngapal kali-kalian yang ngg.. banget. Khusus buat guru SMA gue yang sekarang : Kami ga minta apa-apa kok, bu, pak. kami cuma minta hadiahnya tuh sehari doang, bebas dari tugas!
Guru balik jawab sangar dengan konstrasi kekileran berkurang : Sayangnya tugas udah takdir kalian. Sekarang buka buku cetak halaman 206, kerjakan soal pilihan ganda 50 nomor dan juga soal bagian dua essay 25 nomor. Bagian tiga, 100 nomor dikerja di rumah. Besok kumpulin di meja saya, jam7 tepat! *lalu caww begitu saja, menyisahkan rintihan kemirisan yang keluar dari mulut siswa yang kurang hobi nongkrong di rumah dengan tumpukan tugas-tugas yang waktunya udah ngebet abis*
sekalinya ada guru yang jarang banget ngasi tugas tapi masuk kelas rajinnya nyolot banget, dia ngejelasinnya pake garing banget. Akhirnya sang guru menulis di papan, murid menulis di temlen twiter. Guru menerangkan di depan, murid listening di path. sad! *sok geleng-geleng kepala kayak project pop lalu kepalanya putus dan kelempar*

Gue juga kurang nyaman sama sekolah soal surat ijin. Itu tuh kalau kita lagi asiknya sakit, kita ngirim surat ke sekolah sebagai tanda bukti kita ga ngealibi. Bukan apanya, gue ga suka aja saat ngirim surat tuh, gurunya ga pernah banget ngebales. Malesin banget. Padahal secara harfiah, guru kan orang tua kedua kita? tau dong sifat orang tua dimana-mana itu nge-care-nya itu tulus banget. Guru gue ga perhatian banget. Bales kek dengan, "gws yah" atau cukup jadiin status di bebe. simple tapi kekuatannya itu buat kita jadi asik ngejalanin sakitnya.
Soal pe'er juga. Gue masih bersikap kurang senang nih kalau dikasi pe'er, soalnya gue masih kejebak sama kata guru yang bilang kalau sekolah adalah rumah kedua. Yah berarti si pe'er ini, ga ada salahnya dong kita kerja di sekolah? asal tepat waktu aja. Huft. Guru-guru ngeluarin setetmen, dia juga yang ga ngerti. ampun!
Gue juga punya pesen yang mungkin sebagian besar udah mewakili jeritan hati pelajar di luar sana:
Gue pesen kepada bapak dan ibu guru (2 ayam bakar cabe ijo, nasi lemaknya 2 porsi di satuin sama jus jeruk) mending ga usah deh berdiri depen gerbang sekolahan kalau pagi-pagi. itu gue jujur rada risih. Kami bukan butiran debu yang ga tau jalanan ke sekolah. Soal penertiban rambut panjang nan liar juga, gue ga suka. Yah maksud gue, itu rambutkan aset pribadi. Loh kalau disentuh apalagi dipotong paksa dengan hasil yang sangat-sangat kurang banget memuaskannya, itu hak untuk kebebasan berekspresinya kemana? bukannya sekolah jadi wadah mengekspresikan diri? Kalau udah gini? Rambut udah botak di tengah (di makassar sendiri, peristiwa penertiban rambut panjang disebut tokka') itu cowoknya biasa kayak habis dari tempat potong rambut madura yang mas-mas cukurnya baru belajar megang guntung dan sisir. Hancurnya pada pengen mintak dijambak. Udah dipotong paksa dan ga rapi banget, eh kena semprotan marahan pula. seolah-olah nuntut kesempurnaan banget gitu. Bu, pak, ga ada yang sempurna di dunia ini. Sempurna cuma milik pete rokok indonesia. .
Sebelum lanjut ke-2, akhir kata temen gue katanya mau tereak di jalan tol
"BU, PAK, WALAUPUN GUE GA TAU SIN COS TAN, GUE MASIH BISA BERNAFAS PAKE HIDUNG KOK!"

neksss..
2. Syukron pake banget buat guru ngaji gue dulu yang kalau sore nelantarin kami -gue beserta anak monyet lainnya yang ngaji tapi niat awal cuman ga mau dipaksa tidur siang sama mama- di depen mesjid yang kekonci. Entah saking bosennya kita nunggu atau bokong kami emang udah gatel abis, kami akhirnya memilih untuk memaksa masuk ke dalem mesjid melalui cela di atas jendela, bermodalkan badan temen yang emang keuji banget kuatnya untuk ngangkat kita satu-satu ke atas. Kita akhirnya masuk dan lari-larian dalem mesjid. Ngancurin sejadah dan mukenah yang udah kalian rapiin kemarin saat kejadian ini juga terjadi. Kami berakhir dengan telinga yang memerah, hasil seni dari tangan kalian. seolah menuntut rasa jerah dari anak ingusan yang belum tau apa-apa selain main kejar-kejaran itu seru!, syukron atas ilmu-ilmu yang sampe sekarang gue udah buta banget karena lupa dan ga mau kembali menyibukkan diri dalam bidang itu. Insya Allah, gue masih dikasi kaca mata sama Allah dalam bentuk sesederhana ekskul remaja islami di sekolahan. Tapi jika kalian membaca ini, tras mih! ustad dan ustadzah, kami jerah tapi kebahagiaan yang kami dapatkan membuat mata kami buta waktu itu, afwan namanya juga anak kecil. Sekarang kami yang udah pada gede udah tahu satu hal : ngelawan guru sekolahan, hadepin BK. Tapi kalau ngelawan guru ngaji, hadepin Allah. kami khilaf dan baru sadar setelah kami lulus. Untuk kalian yang sekarang entah di mana, semoga kalian tetep dalam perlindungan Allah. aamiin!

3. Untuk guru pribadi gue yang ada di rumah, tiap hari nyajiin masakan enak tak tertandingi. Guru yang segan banget ngeluarin kertas berwarna abu-abu dari dompetnya saat gue lagi rewel karena kepingin nyicipin manisnya eskrim. Percayalah anakmu ini, ma. suatu saat nanti, gue yang tidak akan segan-segan ngeluarin beratus-ratus lembar berwarna pink dari dompet gue, demi ngewarnai pahitnya kehidupan tuamu nanti. aamiin!

4. Untuk guru yang selalu negur gue kalau gue songong dan buta akan dunia, abang sakti. Dia banyak ngasi setatmen kalau gue drop dan akhirnya gue ngeup lagi. Selalu ngajarin gue makan pake tangan kanan (waktu kecil gue orang yang dominan make tangan kiri -kidal-), selalu bimbing gue ngehafal perkalian dulu, selalu ngajarin gue buat maafin tetangga sebelah kalau kami lagi main bareng tapi ada kesalahan khas anak kecil yang emang diselesaiinnya dengan cara anak kecil juga -musuhan/marahan gajelas-, selalu ngajarin gue kalau punggung tangan lebih bagus dari telapak tangan. Gue pake lope-lope terima kasihnya -oh iya- and the most important thing in my life right now : thank you very much, when books and pens too confusing. You help me with paint and brushes. Obviously, I still can hear your words. Yes, I'm still struggling and achieve your dreams, to be among the first, which is also good.
I owe, life for all.
brother slang, i miss you! *
nulis pake perasaan dengan hati-hati*

5. yang ke-empat gue mau kutip dari Colin Wright, colin.io yang ngomong gini :

 "Every day is a school day, and the world is classroom. life os a teachers: choose your curriculum"
Untuk guru yang ga pernah ninggalin gue barang sedetikpun. Ya dia, kehidupan dan pengalaman. Kinerja mereka sampai saat ini masih sangat indah, sayangnya dengan tenang, santai dan sadar gue menolak keindahan itu. bukan apa-apa, hanya saja gue yang belum matang menguasai konsep kolaborasi kalian. Semoga Allah selalu bersama kalian, walaupun sempat beberapa kali gue mendapati mereka membanting stir ke daerah tak bertuan dan nyaris putus asa dengan menabrakkan diri sendiri jika saja secercah cahaya membentuk seperti tangan Allah ga ngembaliin kami kejalan yang benar. thank you for making me what i am today. lanjutkan kinerja kalian. Suatu saat nanti -yang entah kapan- gue akan datang menepuk pundak kalian sambil berkata "apa konsep kolaborasi kita selanjutnya?"

*ngos-ngosan*
*tiba-tiba dapet sms*
"Ta, kamu islam? Ga ngerayain hari guru 'kan?"
 *cakar-cakar dinding blogger*
Gue baru sadar, bentar.. syoknya gue tadi kurang maksimal. oke ripitt egein!
"Ta, kamu islam? Ga ngerayain hari guru 'kan?"

ASTAGFIRULLOH!

Daripada gue delete sia-sia juga? pfttt..
Gue akuin, islam emang ga boleh nih kayak gini-gini, haram! *sok tahu gapake tempe, ga suka*
gue cuma jadiin ini moment buat inget aja kalau selama ini gue jarang tuh terima kasih sama mereka-mereka ini *nunjuk pake ala-ala syahrini*
jadi, mau ga mau yah tetep ikut aja. Toh gue juga ga mau jadi hamba yang udah bego, sok tau, melenceng lagi dari agama sendiri.

Akhir kata, gue cuma mau ngasi tau sekali lagi,
Selamat hari guru. Jadilah sosok guru yang selalu dirindukan kedatangannya, diamnya disegani, tutur katanya ditaati dan kepergiannya ditangisi. Ingat, guru terbaik adalah pengalaman. Cuma sampe sekarang, gue belum ketemu nih sama pak pengalaman ini.

"the best teachers don't give you the answer. the just point the way and let you make your own choices. your own mistakes. that own you get all the glory. and you deserve it"
- anonim -

 Assalamualaikum *keluar sambil tebarin bunga-bunga.. bunga pemakanam*